Read

KONDISI KUALITAS UDARA DI BEBERAPA KOTA BESAR TAHUN 2019

2020-07-26 | 2426 Views.
thumb_1595781503_DITJEN PPKL KLHK (@ditjenppkl_klhk) • Instagram photos and videos - Google Chrome 26_07_2020 23_35_00.png

Pada tahun 2019, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memiliki 26 stasiun pemantauan kualitas udara otomatis yang tersebar di Indonesia.  Dari 26 stasiun yang dimiliki KLHK, 13 stasiun sudah beroperasi sebelum tahun 2019 dan 13 stasiun lainnya efektif beroperasi pada bulan Juli - Agustus 2019. Stasiun yang telah dioperasikan tersebut dapat memantau kualitas udara berupa konsentrasi parameter PM2,5, PM10, NO2, SO2, CO, HC, O3 serta parameter meteorologi seperti arah dan kecepatan angin, radiasi sinar matahari, suhu, tekanan udara, kelembaban dan curah hujan. Data konsentrasi pencemar udara kemudian diinformasikan ke publik dalam bentuk Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Data ISPU Jumlah hari baik untuk stasiun yang beroperasi penuh pada tahun 2019 dapat dilihat pada grafik di bawah.


Pada Grafik 1. Jumlah Hari Baik Tahun 2019, 12 dari 13 kota memiliki jumlah hari dengan kondisi kualitas udara “Baik” lebih besar dari kategori lainnya. Namun, beberapa kota memiliki kualitas udara dengan kategori “Sangat Tidak Sehat” dan “Berbahaya” yaitu Jambi, Palembang, Palangkaraya, Pekanbaru dan Pontianak yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan. Daerah tersebut memiliki lahan gambut yang luas dan mudah terbakar selama musim kemarau. Beberapa kota yang berdekatan dengan wilayah kebakaran hutan dan lahan juga terkena dampak seperti Aceh, Batam dan Padang.


Pada Tabel 1 (kolom 2 dan 3), dapat dilihat konsentrasi rata-rata tahunan parameter PM2,5 dan PM10 sepanjang tahun 2019. Konsentrasi PM2,5 dan PM10 tertinggi yaitu pada kota Palangkaraya, Pekanbaru, Jambi, Palembang, Pontianak dan Banjarmasin akibat kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut. Daerah lainnya yang terdampak kebakaran hutan dan lahan yaitu Kota Batam, Padang dan Aceh. Sementara untuk Jakarta, Makassar, Manado dan Mataram tidak terdampak kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2019. Kolom 4 dan 5 adalah data rata-rata harian pada bulan Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus dan Desember yang merupakan data rata-rata harian ketika tidak terjadi kebakaran hutan dan lahan.

Gambaran kondisi kualitas udara parameter PM2,5 sepanjang tahun 2019 dapat dilihat pada grafik konsentrasi rata-rata harian parameter PM2,5 yang dibandingkan dengan baku mutu harian yang berlaku (Grafik 2 s.d Grafik 12). Kota Jambi, Palembang, Palangkaraya, Banjarmasin, Pekanbaru dan Pontianak memiliki konsentrasi kualitas udara di bawah baku mutu sampai dengan akhir Agustus 2019, pada awal September hingga akhir November 2019 konsentrasi PM2,5 mengalami peningkatan (melebihi baku mutu). Sementara kota Makassar, Aceh, Manado, Padang dan Batam memiliki konsentrasi PM2,5 relatif lebih rendah.


Rata-rata konsentrasi PM2,5 stasiun AQMS Kota Jambi sebelum dan setelah kebakaran hutan dan lahan adalah 18,52 µg/m3 sementara rata-rata tahunan sepanjang tahun (termasuk saat kebakaran hutan dan lahan) adalah 47,07 µg/m3.


Rata-rata konsentrasi PM2,5 stasiun AQMS Kota Palembang sebelum dan setelah kebakaran hutan dan lahan adalah 14,95 µg/m3 sementara rata-rata tahunan sepanjang tahun (termasuk saat kebakaran hutan dan lahan) adalah 42,70 µg/m3.


Rata-rata konsentrasi PM2,5 stasiun AQMS Kota Palangkaraya sebelum dan setelah kebakaran hutan dan lahan adalah 14,96 µg/m3 sementara rata-rata tahunan sepanjang tahun (termasuk saat kebakaran hutan dan lahan) adalah 54,00 µg/m3.


Rata-rata konsentrasi PM2,5 stasiun AQMS Kota Banjarmasin sebelum dan setelah kebakaran hutan dan lahan adalah 12,37 µg/m3 sementara rata-rata tahunan sepanjang tahun (termasuk saat kebakaran hutan dan lahan) adalah 22,24 µg/m3.


Rata-rata konsentrasi PM2,5 stasiun AQMS Kota Padang sebelum dan setelah kebakaran hutan dan lahan adalah 13,00 µg/m3 sementara rata-rata tahunan sepanjang tahun (termasuk saat terdampak kebakaran hutan dan lahan dari wilayah lain) adalah 17,27 µg/m3.



Rata-rata konsentrasi PM2,5 stasiun AQMS Kota Pekanbaru sebelum dan setelah kebakaran hutan dan lahan adalah 23,64 µg/m3 sementara rata-rata tahunan sepanjang tahun (termasuk saat kebakaran hutan dan lahan) adalah 48,71 µg/m3.


Rata-rata konsentrasi PM2,5 stasiun AQMS Kota Pontianak sebelum dan setelah kebakaran hutan dan lahan adalah 15,91 µg/m3 sementara rata-rata tahunan sepanjang tahun (termasuk saat kebakaran hutan dan lahan) adalah 32,64 µg/m3.


Rata-rata konsentrasi PM2,5 stasiun AQMS Kota Aceh sebelum dan setelah kebakaran hutan dan lahan adalah 12,43 µg/m3 sementara rata-rata tahunan sepanjang tahun (termasuk saat terdampak kebakaran hutan dan lahan dari wilayah lain) adalah 13,52 µg/m3.


Rata-rata konsentrasi PM2,5 stasiun AQMS Kota Batam sebelum dan setelah kebakaran hutan dan lahan adalah 17,90 µg/m3 sementara rata-rata tahunan sepanjang tahun (termasuk saat terdampak kebakaran hutan dan lahan dari wilayah lain) adalah 17,90 µg/m3.


Grafik kondisi kualitas udara parameter PM2,5 hasil pemantauan stasiun yang berlokasi di GBK Jakarta menunjukkan bahwa konsentrasi parameter PM2,5 sangat fluktuatif tiap harinya. Kecenderungan konsentrasi PM2,5 meningkat pada awal bulan Mei 2019 dan menurun pada akhir bulan Desember 2019. Konsentrasi rata-rata harian tahun 2019 yaitu 37,66 µg/m3.



Konsentrasi rata-rata harian tahun 2019 hasil pemantauan kualitas udara ambien stasiun AQMS Kota Makassar yaitu 37,66 µg/m3.



Konsentrasi rata-rata harian tahun 2019 hasil pemantauan kualitas udara ambien stasiun AQMS Kota Manado yaitu 15,44 µg/m3.